|
Baru-baru
ini seorang wanita cantik berusia sangat belia menulis dalam sebuah forum
website komunitas tertentu bahwa ia bermaksud untuk tinggal serumah dengan
pacarnya di Australia, namun ia bingung untuk memutuskan perlukah ia mengambil
keputusan tersebut. Wajahnya yang cantik terpampang dalam identitas penulis,
sehingga membuat member lainnya tertarik untuk memberi pelbagai komentar didalam
forum tersebut. Halaman penuh dengan komentar yang memuji, dan banyak sekali
mendukung dan bahkan beberapa komentar lain juga ikut memberi komentar negatif,
tak ayal lagi, topik tersebut penuh sesak dengan berbagai saran dan kritik
dibandingkan topik-topik lainnya.
Membaca berbagai saran dan dukungan yang diberikan oleh
pelbagai pihak sangat menyesakan dada, generasi kita seakan-akan telah
kehilangan prinsip dan identitasnya. Pikiran-pikiran positif menjadi tabu untuk
dibicarakan, pemikiran yang berlandaskan nafsu semata menjadi suatu post trend
dikalangan remaja kita saat ini. Petimbangan secara seksual lebih mendominasi
dibandingkan pemikiran yang berlandaskan pada kewaspadaan.
Kebanyakan dari mereka mencoba mengangkat sebuah gaya hidup modern dengan
mengesampingkan nilai-nilai yang ada pada manusia itu sendiri yang disebut-sebut
sebagai manusia yang berbudaya (mempunyai akal dan budi -nilai-nilai luhur).
Mereka menganggap ini adalah sebagai keputusan "gaya hidup" sebagai suatu
pilihan. Benarkah? Pikirindong berusaha mengupas masalah ini secara lebih
mendalam.
Banyak pasangan cinta melakukan hidup serumah dengan pasangannya tanpa
terikat dengan pernikahan dengan berbagai alasan;
Untuk
penghematan uang, mereka berpikir bahwa dengan tinggal bersama maka beberapa
kebutuhan individu dapat dihemat dengan tinggal secara bersama, misalnya untuk
biaya menyewa tempat tinggal.
Karena
salah satu pasangan memiliki rumah yang indah atau rumah tersebut terlalu luas
untuk tinggal sendiri.
Mereka
beranggapan bahwa dengan tinggal serumah bisa meluangkan waktu lebih banyak
secara bersama
Ketakutan
akan kehilangan pasangannya.
Beberapa hal yang menjadi pertimbangan sebelum Anda memilih untuk tinggal
bersama dengannya sebelum menikah;
Nilai-nilai yang terdapat pada agama.
Banyak sekali tulisan-tulisan yang dapat Anda temukan dalam berbagai media cetak
yang sebenarnya membahas masalah ini, tetapi mereka tidak pernah sekalipun
membahas keputusan yang Anda ambil bila tinggal serumah sebelum menikah
merupakan suatu kesalahan. Media membentuk suatu image bahwa tinggal serumah
merupakan suatu "pilihan" yang benar atau salah ditentukan oleh masing-masing
individu. Inilah trend yang dibentuk pada generasi sekarang (baby buster, MTV generation sebagai salah satu
lifestyle kosmopolitan. Fenomena tinggal bersama sebelum menikah ini melanda
hampir seluruh dunia, menunjukkan menurunnya kepercayaan (iman) terhadap
pemahaman kitab-kitab suci. Islam dan Kristen sangat melarang hubungan seks
sebelum menikah.
Tinggal bersama sebelum menikah berarti pelecehan terhadap lembaga perkawinan
yang lebih suci dan diakui oleh Tuhan.
Banyak pasangan memilih tinggal bersama mengatakan bahwa mereka melakukan
berdasarkan cinta, mereka melakukan hubungan seks berdasarkan cinta. Mereka
tidak mau disebut sebagai pasangan freesex atau pasangan kumpul
kebo. Ini merupakan kerancuan berpikir, bila Anda
mencintai pasangan Anda maka perlakukanlah pasangan Anda seperti Tuhan
memperlakukan cinta kepadanya. Perkawinan merupakan langkah suci yang diberikan
petunjuk oleh Tuhan, maka untuk dapat melakukan hubungan seks yang didasarkan
cinta haruslah melalui perkawinan yang diakui oleh Tuhan melalui kitab suci-Nya.
Seks pranikah atau tinggal bersama bukanlah jaminan keutuhan dan keberlangsungan
hubungan.
Barbara De Angelis, seorang pakar relationship menulis; hidup bersama secara
dini merupakan suatu kesalahan besar, hidup bersama sebelum hubungan mencapai
tahap komitmen, kematangan dan stabilitas emosional yang signifikan sesungguhnya
bisa mempercepat kehancuran suatu hubungan. Tinggal bersama dalam satu rumah
tidak berarti bahwa dengan alasan mengenal pasangan lebih mendalam dengan waktu
lebih banyak. Justru dengan tinggal bersama konflik lebih banyak muncul,
karakteristik sangat berpengaruh dalam kebijakan menangani konflik. Kesiapan
secara emosional akan mempengaruhi hubungan itu sendiri.
Tinggal bersama sebelum menikah akan membentuk karakter pemalas secara emosional
Jika Anda memilih hidup bersama tanpa kesiapan secara emosional dan komitmen
akan justru membuat Anda terpuruk menjadi malas secara emosional. Kebanyakan
pasangan yang hidup serumah tanpa terikat dengan pernikahan menganggap bahwa
komitmen, pengenalan karakter pasangan, dan kematangan emosional akan terbentuk
dengan sendirinya, seriring dengan waktu yang dimiliki lebih lama bersama dengan
pasangannya. Ini adalah bentuk kesalahan lainnya. Ketidakmampuan untuk
mengatasai konflik, kebanyakan pasangan memilih untuk menghindari konflik,
mereka menganggap bahwa semakin sedikit konflik yang terbentuk maka semakin baik
hubungan tersebut. Penghindaran terhadap konflik yang disebabkan oleh tidak
adanya komitmen hubungan yang jelas justru membentuk konflik laten yang setiap
saat dapat menjadi konflik terbuka. Hal lainnya adalah dengan waktu yang
dimiliki lebih banyak, pasangan kurang dapat memberi penghargaan dan perhatian
terhadap pasangannya karena seiring dengan pertemuan yang akrab.
Tinggal bersama sebelum menikah berarti menciptakan celah terhadap penghindaran
komitmen.
Ini merupakan hal menarik untuk dikupas, dalam suatu acara TV terkenal; Oprah,
atau sebelumnya dengan nama The Oprah Winfrey Show, dibahaskan tentang pria-pria
fobia komitmen. Para
pria ini memilih untuk tinggal bersama dengan pasangannya lebih didasarkan pada
pemenuhan kebutuhan seksual, mereka menghindari perkawinan yang dianggapnya
mengikat kebebasannya. Ternyata dalam pengakuan pria-pria yang fobia terhadap
perkawinan ini bahwa tinggal bersama bukan berarti bahwa hanya melakukan
hubungan seks dengan pasangannya, mereka beranggapan bahwa seks adalah seks dan
cinta adalah cinta. Mereka beranggapan bahwa tidur dengan wanita lain adalah
sah-sah dilakukan karena mereka tidak berkomitmen untuk menikahi pasangannya
yang saat itu tinggal di apartemennya. Hal menarik lainnya, Barbara menulis;
"...kebanyakan dari ibu kita berusaha meyakinkan kita
(perempuan) bahwa laki-laki tidak akan menikahi wanita jika mereka jika mereka
bisa berhubungan seks dengan pasangannya, karena mereka telah mendapatkan apa
yang mereka inginkan."
Walaupun tidak semua anggapan ini benar, saya tertarik ketika
seorang pakar hubungan perkawinan dan keluarga menyebutkan bahwa; "...sebenarnya
pria fobia komitmen belajar dari sikap yang ditunjukkan oleh pasangannya,
seandainya saja mereka tidak mudah untuk diajak tidur dalam waktu seminggu
perkenalan, maka pria ini dapat belajar akan rasa penasarannya, bahwa ia tidak
akan mudah mendapatkan seks dari wanita yang ingin dikencaninya, maka pria-pria
ini akan lebih sabar dan belajar untuk menghargai komitment pernikahan..."
Pilihan untuk tinggal serumah sebelum menikah, lebih banyak berdampak negatif
yang dapat merugikan keduabelah pihak, pria yang fobia terhadap komitmen mungkin
bersembunyi dibalik tembok hidup bersama untuk bisa menikmati keintiman yang
mereka ciptakan atau bahkan cara ini digunakan oleh pria untuk tidak dipaksakan
oleh pasangannya untuk terikat pada komitmen final perkawinan. Selain
faktor-faktor lain yang menjadi pertimbangan sebelum Anda memutuskan untuk
tinggal bersama ada beberapa faktor konflik yang tak terduga yang dapat muncul
setiap saat;
Finansial; Tidak ada komitmen yang terbentuk bahwa seseorang harus
menanggung biaya-biaya tertentu, seperti biaya listrik, air, asuransi, biaya
sewa rumah dan lain-lain. Hal ini swaktu-waktu dapat menjadi konflik yang tak
terduga.
Barang-barang pribadi. Tidak semua barang-barang Anda dapat disukai oleh
pasangan Anda. Dapat saja barang-barang tersebut menjadi sumber konflik yang
samasekali tidak Anda perkirakan sebelumnya.
Kehamilan. Tidak semua pasangan menyukai kemunculan "orang baru" dalam rumah
mereka. Kebanyakan mereka tidak berkomitmen tidak mempunyai anak dalam hubungan
mereka. Kehamilan merupakan hal yang sangat ditakuti oleh beberapa pasangan
karena ini dapat menjadi aib, penambahan beban secara finansial, kesiapan mental
dan fisik dalam mengurus bayi.
Penilaian negatif masyarakat. Tidak ada alasan yang seharusnya dapat
dibenarkan pada pasangan yang tinggal serumah tanpa ikatan perkawinan. Dampak
sosial yang lebih buruk membuat masyarakat sekeliling Anda sangat memusuhi Anda,
kecuali bila Anda tinggal di lingkungan yang permisif.
Tidak
ada komitmen untuk saling mengikat. Biarpun Anda menyusun komitmen-komitmen
bersama, belum tentu komitmen tersebut dapat melindungi Anda dari berbagai
tindakan kekerasan atau pelecehan yang mungkin saja dapat timbul. Hal terburuk
yang dapat terjadi adalah sewaktu-waktu Anda dapat disuruh meninggalkan tempat
tinggalnya karena diakibatkan konflik yang terjadi secara terus menerus.
Komitmen yang Anda buat bukanlah komitmen yang muncul dari norma dan nilai yang
muncul dari dalam masyarakat. [PD/Ayed]
___________________
|