|
Masturbasi
adalah rangsangan disengaja yang dilakukan pada organ genital untuk memperoleh
kenikmatan dan kepuasan seksual pelakunya dapat pria ataupun wanita. Masturbasi
berasal dari bahasa latin; mastubare dari kata manus (tangan) dan
stuprare (penyalahgunaan).
Freud menjelaskan, pada anak usia kira-kira 3 tahun (fase
falis), anak mulai menemukan alat kelaminnya sebagai erogen terpenting dari
tubuhnya, pada masa tersebut anak mulai menemukan kenikmatan dengan bermain-main
alat kelaminnya. Pada masa ini tidak tidak dapat disebut sebagai aktivitas
seksual, karena organ-organ seksual belum berfungsi secara maksimal (sampai fase
genital). Pada fase tersebut anak akan sering memegang-megang alat kelaminnya,
selain rasa ingin tahu akan organ-organ tubuhnya kadang juga disebabkan sensasi
yang ia rasakan aneh baginya, misalnya pada anak laki-laki yang mengalami ereksi
(tanpa sebab yang ia ketahui) ketika bangun di pagi hari.
Berbeda bila perilaku merangsang organ genital secara sengaja untuk mencari
kenikmatan pada usia remaja, perilaku ini dapat disebutkan sebagai aktivitas
seksual; masturbasi, merancap atau sering juga disebut dengan onani. Pada usia
remaja, pertumbuhan dan perkembangan organ seksual semakin matang dan mulai
berfungsi dengan baik. Organ-organ seksual mulai mengenal sensasi-sensasi birahi.
Remaja pada awalnya melakukan masturbasi akibat rangsangan fantasi seksual yang
secara terus menerus. Mereka melakukannya dapat dengan bantal guling
Masyarakat pada umumnya menolak masturbasi sebagai kebiasaan yang dapat diterima
atau dianggap lumrah walaupun beberapa ahli dibidangnya berkesimpulan masturbasi
tidak berbahaya secara medis ataupun mental. Oleh sebabnya, beberapa masyarakat
tetap menolaknya disebabkan ajaran agama melarang perbuatan tersebut kecuali
bagi mereka yang sudah menikah. Banyak pasangan menikah pun masih melakukan
masturbasi sebagai salah satu menu yang berbeda.
Seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan kehidupan yang semakin pesat, di
dalam masyarakat mulai terjadi pergeseran-pergeseran moral, ide-ide baru
bermunculan untuk membenarkan tindakan masturbasi pada individu-individu yang
belum menikah. Opini publik ini semakin menguat dengan alasan yang beragam,
misalnya saja orang membolehkan remaja atau bahkan individu dewasa melakukan
masturbasi dibandingkan terlibat freesex atau bahkan dengan penekanan;
boleh melakukan masturbasi asal jangan terlalu sering dan berbagai ragam alasan
lainnya.
Seiring semakin majunya peradaban teknologi, berbagai alat untuk membantu
mencapai orgasme (kepuasan seksual) pun telah diciptakan, sebut saja vibrator,
dildo, vaginator dan sebagainya. Alat-alat ini dijual
ditempat-tempat tertentu untuk membantu aktivitas seksual. Pada awalnya
alat-alat tersebut diperuntukan untuk membantu bagi mereka yang mengalami
permasalahan seksual untuk mencapai orgasme, namun penggunaan alat tersebut
dibeberapa negara semakin meluas di dalam masyarakat.
Dampak dari masturbasi
|
 |
|
|
|
|
|
Operasi mempercantik bentuk vagina di sebuah rumah sakit
di AS. |
|
|
-photo unknown |
|
|
|
|
Terlepas dari beberapa polemik, walaupun beberapa ahli
mengatakan bahwa masturbasi tidak berdampak apapun, beberapa hal perlu Anda
ketahui untuk itu:
1) Masturbasi dapat menimbulkan perasaan bersalah, berdosa bagi pelakunya,
akibatnya individu dihantui perasaan bersalah, kotor atau berdosa dalam
memandang dirinya. Beberapa agama (Islam) melarang perbuatan tersebut karena
dapat mempengaruhi mental dan akhlaknya di kemudian hari
2) Self Control. Masturbasi biasanya dilakukan karena adanya
rangsangan-rangsangan dari luar terlebih dahulu (stimuli) bukan bersifat
instinktif. Artinya semakin bagus kontrol terhadap diri dan perilakunya maka
individu yang mempunyai self control yang baik akan menjauhi perbuatan tersebut.
Individu mampu melakukan represi terhadap stimuli tersebut tanpa harus melakukan
masturbasi ketika dorongan-dorongan seksualnya semakin tinggi
3) Biasanya pelaku masturbasi, terutama pada pria akan mengalami krisis
kepercayaan diri (self confidence). Masturbasi biasanya dilakukan "terpaksa".
Dimana pria akan berusaha memacu orgasmenya untuk mencapai kepuasan, akibatnya
akan muncul perasaan akan takut gagal berhubungan intim yang diakibatkan terlalu
cepat keluar, perasaan takut tidak dapat memuaskan istrinya.
4) Beberapa pasangan yang sudah menikah, masturbasi hanya menjadi selingan yang
tidak bisa dipaksakan pada pasangan cintanya. Beberapa orang mengatakan bahwa
masturbasi mempunyai sensasi yang lebih dibandingkan berhubungan seks ini dapat
mengakibatkan masturbasi kompulsif. Masturbasi juga tidak boleh dijadikan
sebagai acara menu tetap pengganti bersenggama pada pasangan yang sudah menikah
5) Masturbasi yang terlalu sering dapat menjadi suatu obsesi dalam diri individu.
Rangsangan seksual yang secara terus menurus dan membutuhkan pelampiasan dengan
masturbasi, akibatnya menjadi kebiasaan yang buruk. Biasanya pada remaja sifat
kreativitas menurun secara drastis.
6) Penggunaan alat bantu seks (sex toys) dapat mempengaruhi sikap dan
perilakunya terhadap seks. Alat seks adalah mesin ―yang berbeda dengan manusia,
alat-alat tersebut dapat menimbulkan adiktif berlebihan karena sensasi yang
diberikan berbeda dengan kemampuan pada manusia.
7) Beberapa alat bantu seks tersebut belum tentu cocok untuk ukuran bangsa
tertentu, penggunaan secara berlebihan dan tidak tepat dapat menimbulkan luka
atau infeksi pada alat kelamin.
8) Masturbasi secara tidak tepat dan tidak terkontrol dapat merusak selaput dara
(keperawanan), pada pria dapat merusak atau memutuskan jaringan darah di phallus
yang dapat mempengaruhi kekuatan ereksi yang semakin melemah.
9) Dalam beberapa kasus, penggunaan sex toys secara berlebihan dan intens juga
dapat mengakibatkan pelebaran dinding vagina atau kapalan pada labium minora
akibat luka yang secara terus menerus terjadi pada saat pemakaian. Di beberapa
rumah sakit khusus bedah plastik, pelebaran labium minora dapat dilakukan
pembedahan (operasi) dengan tujuan mempercantik bentuk vagina. [PD/Ayed]
___________________
|