|
Saya lahir di Kendari, sebuah kota kecil di
tenggara Sulawesi, pada 11 Mei 1982 dengan nama kecil Iman, empat huruf terakhir
dari nama panjang saya: Ardiman. Namun saat ini, saya lebih senang dipanggil
Ardi, empat huruf pertama. Saya bungsu dari empat bersaudara. Taman kanak-kanak
hingga sekolah menengah umum saya selesaikan di kampung halaman. Yogyakarta
menjadi tujuan saya untuk melanjutkan studi perguruan tinggi sejak sembilan
tahun lalu. Adalah Universitas Islam Indonesia yang menjadi pilihan utama
setelah gagal menembus universitas negeri.
Saya memilih menggeluti ilmu psikologi, padahal sebelumnya saya tidak tahu sama
sekali ilmu itu seperti apa. Hingga berjalannya waktu, saya mulai menyenangi
ilmu yang mempelajari perilaku manusia itu. Selain kuliah, saya aktif di Ikatan
Mahasiswa Muslim Psikologi Indonesia atau Imamupsi. Saya pernah menjadi ketua
komisariat kampus selama dua periode. Mungkin karena aktivitas itu, saya butuh
waktu lima setengah tahun untuk menamatkan studi strata satu. Skripsi yang
berjudul “Hubungan antara Spiritualitas dan Proactive Coping pada Survivor
Bencana Gempa Bumi di Bantul” mengantarkan saya memperoleh gelar sarjana. Tugas
akhir itu pernah saya presentasikan dalam Konferensi Nasional I Ikatan Psikologi
Klinis – HIMPSI pada 2-3 Februari 2007 di Hotel Papandayan, Bandung, dan
dipublikasikan dalam Jurnal Psikologika No. 25 Vol. 13/Januari 2008
Sebelumnya, saya mendapat juara ketiga pada Lomba Esai “Yogyakarta Enam Bulan
Pasca-Gempa – The Renovation Still Takes Place” yang diselenggarakan oleh
Himpunan Mahasiswa Teknik Industri Universitas Gadjah Mada dengan judul esai
“Terapi Psiko-Spiritual untuk Korban Gempa di Bantul” yang kemudian saya
kembangkan untuk dipresentasikan dalam Temu Ilmiah Nasional II Psikologi Islami
“Islamic Psychology in Application” pada 4 Agustus 2007 di Universitas Islam
Sultan Agung, Semarang, dengan judul yang sama.
Tiga semester terakhir, saya melanjutkan studi Magister Profesi Psikologi di
kampus yang sama. Saya mengambil konsentrasi Psikologi Industri-Organisasi. Saya
tertarik mendalami ilmu manajemen sumber daya manusia sebagai bekal untuk terjun
di dunia industri dan organisasi kelak. Di sela-sela kesibukan kuliah, saya dan
teman-teman sedang menggiatkan lembaga keilmuan dan terapan, Jawara Community of
Psychology, di mana saya menjadi ketuanya. Selain itu, saya masih aktif sebagai
staf Humas Asosiasi Psikologi Islami.
Di usia lebih dari seperempat abad, saya terus berupaya melakukan perubahan
dalam diri menjadi manusia yang sesungguhnya, seperti motto yang selalu saya
ikrarkan di dalam diri untuk membuat saya terus bersemangat: esok sudah tidak
bisa lagi mengubah apa yang terjadi hari ini, tapi hari ini masih dapat mengubah
apa yang akan terjadi pada hari esok. Semoga.
|