|
Gue lahir di desa kecil tepi laot, Pusong, sebuah desa nelayan
di pinggir laut kota Lhokseumawe. Gw anak nelayan tapi ga bisa berenang!
Hasilnya cuman item doang yang nunjukkin gw emang besar dari desa nelayan.
Wakakaka. Dari kecil gw suka menggambar, beberapa kali waktu masih sekolah juara
menggambar poster. Nah, dulunya pengen jadi seniman tapi gagal kuliah di ISI (Institut
Seni Indonesia) Jogja. Biar ga nganggur mencoba kuliah di fakultas psikologi UII
(Universitas Islam Indonesia). Menjelang lulus gw baru sadar ternyata psikologi
itu ilmu yang mumet tapi mengasyikan!
Sampai sekarang gw senang dengan design, gw paling seneng bikin
poster yang aneh, cuman sayang di tempat gw semakin aneh sebuah design maka
dianggap tidak lazim, dan tidak laku! Gw belajar komputer otodidak, beberapa
program seperti photoshop, coreldraw, freehand, pagemaker gw belajar pada sang
guru: [F1] alias help! Buka program tersebut lalu pijit [F1] di kibod,
belajarlah!
Gw suka juga baca buku, terutama psikologi yang berhubungan
dengan filsafat salah satunya tulisan Syed Muhammad Naquib Al -attas;
Pendidikan Islam. Gw suka buku yang penulisnya punya ide sendiri yang bukan
menyalin atau mengikut arus atau sifat metodis atau teoritis banget. Soalnya gw
pernah dijebak dengan pertanyaan seperti ini; duluan praktek atau teori dulu
yang muncul dalam kehidupan? Pertanyaan tersebut sangat mengusik gw untuk terus
berpikir. Yah, kita terjebak dengan pernyataan dalam bentuk pertanyaan tanpa
kita sadari ada yang salah mengenai keduanya! Kadang orang menelontarkan
pertanyaan seperti itu hanya untuk menunjukkan dirinya sebagai orang yang harus
diperhatikan, penonjolan dirinya sebagai pemikir yang baik.
Hal lain yang mengusik gw tentang reflection of therapist,
sebuah "basa-basi" yang harus ditunjukkan oleh psikiater. Saya suka dengan teori
tersebut, hampir semua buku kedokteran modern sekarang ini menemukan bahwa obat
tidak akan mujarab bila sikap dokter tidak bersahabat dengan pasiennya. Hmm,
ketika istri saya sakit saya melihat dikota ku uang adalah segalanya bukan obat!
(Maaf bukan menyinggung profesi dokter lho). Tak heran dalam acara Republik
Mimpi di Metrotv pernah mengankat soal isu ini; orang miskin dilarang sakit!
Hal lain mengusik adalah beberapa tulisan Barbara DeAngelis,
menurutnya dalam konseling, kebanyakan psikiater terlalu bersikap "terlalu
lembut", padahal orang-orang berobat tersebut juga mempunyai penyakit mental
lainnya selain pelbagai permasalahan pribadi lainnya, kebanyakan mereka tidak
pernah sadar bahwa tindakan-tindakannya itu salah, tidak peduli dengan orang
lain, egois, minim moral, miskin emosional, dsb. Kebanyakan psikiater tidak
berani menyerang perilaku-perilaku pasiennya untuk menjaga wibawa, hubungan
interpersonal, dan,.. aahh segala tetek bengek teoritis lainnya. Akibatnya,
pasien tidak pernah menyedari apa yang disebut dengan self introspection,
untuk memperbaiki sikap dan perilakunya. Nah lhoo...
|